another aha! moment
![]()
Tanpa sengaja hari ini saya terlibat beberapa kali dalam pembicaraan mengenai perceraian. Pembicaraan pertama, seorang sahabat curhat tentang ayahnya yang kambuh lagi sms-an dengan perempuan lain. Okelah, orang tuanya memang tidak bercerai, tapi apa yang terjadi saat ini adalah tanda-tanda jenuh yang biasanya awal dari perceraian.
Pembicaraan kedua, dua orang kakak beradik mengaku sudah menjadi korban pisah orang tua sejak 9 tahun lalu. “Biasa saja”, itu jawaban mereka ketika ditanya “Kangen mama nggak?”, “Sedih nggak?” atau pertanyaan-pertanyaan lain yang berhubungan dengan perpisahan orang tua mereka. Itu karena mereka belum mengerti apa apa ketika orang tua mereka pisah, dan kini ketika mereka dapat mengerti, mereka sudah terlanjur terbiasa dengan situasi itu.
Pembicaraan ketiga, teman saya hampir lupa dengan wajah ayahnya karena sudah terlalu lama tidak bertemu. Mungkin baginya, ibu adalah ayah, dan ayah adalah ibu. Ibu yang merawatnya dan mengurusi rumah tangga, serta ibu pula yang mencari nafkah untuk menghidupi mereka.
Perjalanan saya hari ini ditutup dengan pemandangan sepasang suami istri muda, duduk di depan teras rumah baru mereka yang terlihat dari luar masih kosong, hanya ada beberapa bangku dan satu meja. Mereka duduk bergandengan tangan, mengobrol dan bertukar pandang mesra di bawah cahaya temaram lampu teras. Saya berpikir, akankah mereka tetap seperti ini lima tahun, sepuluh tahun, hingga lima puluh tahun ke depan? atau akankah hubungan itu akan berakhir di secarik kertas bertuliskan “akta cerai”?
Hancur sudah mimpi-mimpi saya waktu kecil, menggunakan gaun putih panjang, berdiri bersebelahan dengan orang yang saya cintai dan hidup bahagia selamanya. Ternyata pernikahan tidak sesederhana itu.
Saya patut memberi penghargaan kepada orang tua saya yang mampu mempertahankan pernikahnnya hingga saat ini.
-
sugihabraham liked this
-
yosefinsusan posted this